Entri Populer

Minggu, 07 November 2010

catatan efek erupsi nerapi di purworejo

Assalamu'alaikum, kemarin sabtu 6 november 2010, saya dan keluarga pergi ke rumah nenek , melihat keadaan beliau yang sedang sakit, di tengah perjalanan malam itu, ternyata daerah purworejo, terkena efek erupsi merapi yang cukup lumayan, jalan licin, bercampur lumpur, lampu mati hampir seharian,tapi alhamdulillah semua bisa terkendali, semoga erupsi merapi ini segera berakhir, amin, Ya Allah











best regard
FWH
diselesaikan 16.31 Kra

Rabu, 03 November 2010

refleksi alumni gajah mada (diambil dari milis kagama)

Kita semua sebagai alumni UGM adalah ibarat air yang keluar dari UGM
> sebagai sumber mata air. Karena itu sewajarnya bila kita mengingat
> kembali bunyi kata-kata Prasasti yang ada di Gedung Pusat :
>
> GADJAH MADA ADALAH SUMBERMU
> GADJAH MADA ADALAH MATA AIRMU
>
> MAKA MENGALIRLAH KE LAUTNYA PENGABDIAN KEPADA RAKYAT
> BUKAN KEMUKTIAN DIRI
>
> (Sukarno, Presiden RI)
>
> Petunjuk Presiden tersebut sangatlah dalam maknanya, dapat sebagai
> panduan bagi kita dalam mengabdi kepada negara dan bangsa.
>

Jumat, 29 Oktober 2010

Duhai Ibu, kupersembahkan baktiku untukmu

Duhai Ibu, kupersembahkan baktiku untukmu

 

Ibu ..kata pertama yang kuucapkan ketika mulai pandai berbicara.
Kalimat paling indah yang pernah ku ulang-ulang …

Apapun yang kukatakan, dan apapun yang kulakukan, takkan bisa aku membalas jasamu duhai ibuku.

Aku takkan melupakan haribaanmu yang penuh kasih sayang
Takkan kulupa malam2 yang engkau lalui tanpa memejamkan mata sepicingpun....Dan hari2mu yang penuh dengan keletihan.

Aku tidak lupa ketika kita semua berkumpul mengelilingi hidangan makan di atas tikar pandan, lalu engkau mendahulukan kami dari pada dirimu dengan segala macam makanan dan minuman yang lezat dan enak.

Betapa lelahnya engkau wahai ibu, ketika kami terlambat pulang di malam hari karena bermain, seluruh penghuni rumah telah lelap, tinggallah engkau menahan kantuk menanti kepulangan kami.

Dulu, engkau takut dan khawatir ketika kami bermain ditepi sungai..aku ingat, engkau pernah marah ketika aku bermain di tepian sungai lalu memukulku, ketika itu aku belum mengerti kenapa engkau begitu marah. Tatkala aku besar dan dewasa. anakmu ini mengerti. Semua itu engkau lakukan karena engkau mengkhawatirkan keselamatan... aku anakmu!!

Aku tidak akan lupa, ketika aku beranjak remaja dan pergi merantau untuk menuntut ilmu engkau ikut bersusah payah bekerja,menumbuk tepung membuat kue dan berjualan mengumpulkan uang dari sana dan sini untuk membantu pendidikan kami anak-anakmu.

Ya Allah .. rahmatilah ibuku

Alangkah sedih hatiku, setelah bertahun-tahun aku tidak pulang, ketika pertama kali aku berdiri di hadapanmu engkau katakan,“Ini bukan anakku”. Karena kondisi dan penampilanku yang tidak seperti engkau bayangkan…

Tak kuasa diriku menahan air mata mendengarnya, membuatku tersungkur memeluk kakimu dan ketika tanganmu membelai kepalaku serasa tetesan-tetesan embun memadamkan kesedihan dan mengobati kerinduan hati.

Setelah perjalanan panjang yang kulalui jauh darimu, akupun pulang ..engkau telah beranjak tua dan lemah. Sungguh engkau telah berikan untukku dan saudara-saudaraku tahun-tahun terindah dan paling manis dalam hidupmu

Berapa sering engkau membela kami. Entah berapa banyak pengorbananmu untuk kami. Engkaulah yang telah menanggung keresahan dan kegundahan kami, engkau selalu berusaha mewujudkan keinginan kami sekalipun kami telah besar.

Dulu dipanggil fulan .. dan hari hari ini orang memanggilku ustadz fulan..semua itu demi Allah tidak lain dan tidak bukan karena anugerah Allah semata kemudian karena jasamu ibu. aku ini demi Allah tidak lain dan tidak bukan adalah satu dari sekian banyak buah kebaikanmu ibu.Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan sebaik-baik pahala

Wahai pemilik senyuman yg tulus, wahai pemilik hati yg dermawan dan penuh kasih sayang
Untukmu aduhai bunga yg tak pernah layu dan mata air yg bening,
Untukmu yg telah mengusap air mataku, membasuh kotoranku, menyuapkan makan dan minum dengan tangannya kemulutku, yg telah menjadikan haribaannya sebagai ketenangan bagiku.
Matanya yg selalu mengawasiku.

kupersembahkan baktiku, semoga Allah membalas segala budi baikmu.

Ya Allah jagalah ibuku dengan penjagaanMu,panjangkanlah umurnya, perbaikilah amalannya, dan tutuplah usianya dengan amal sholeh dijalanMu.

IBU .. TAHUKAH ENGKAU SIAPA ITU IBU?
Dia adalah contoh kasih sayang yang hidup di tengah kita, tidak ada yang memandangnya dengan penghormatan dan penghargaan melainkan orang-orang yang dikasihi Allah. Ibu adalah laksana batu karang kesabaran. Gambaran hidup bagi...sifat pema’af dan lapang dada.

kini aku paham arti ungkapan sebagian orang ‘mendengar bkn seperti menyaksikan’.Aku banyak mendengar ragam ungkapan tentang besarnya keutamaan seorang ibu.Sama seperti yg lainnya, aku mendengar semua itu tapi hanya sebatas lewat ditelinga. Terkadang ungkapan yg indah menggetarkan perasaanku. Kadang kala aku mengangguk-angguk kagum mendengar bait-bait syair yg indah kemudian tidak tampak wujudnya dalam kehidupan nyata.

Ketika aku dapatkan diriku mengikuti fase-fase perkembangan kehamilan istriku selangkah demi selangkah.
Dan ketika ia memasuki bulan yang kesembilan lebih sedikit. Aku bayangkan diriku adalah bayi meringkuk di dalam rahim itu. Aku terus mengikuti dan mengawasi .. aku mulai merasakan sebagian makna-makna tersebut yang sering aku dengar tentang keutamaan seorang ibu.

Aku telah melihat dan melihat sesuatu hal yang luar biasa,membuat kepala menggeleng-geleng, hati tersentuh dan mata menangis. Sejak itu aku benar-benar yakin bahwasanya ibu wanita yang agung ini, manusia tidak akan pernah bisa membalas jasa dan budi baiknya sepanjang masa.

Betapapun indahnya untai kata sebuah puisi dan rangkai kalimat nan lembut sebuah sya’ir
Demi Allah tidak akan ada yang bisa membalas kebaikannya kecuali Allah semata.

Di akhir bulan yang kesembilan itu ..apa yang aku saksikan!! Aku memohon rahmatMu ya Allah ..apakah sanggup seorang manusia menanggung semua kepedihan dan rasa sakit itu??!!

Aku melihatnya menanggung semua itu dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Aku melihatnya dan mendengarnya dan ia tidak sadar ketika ia mengerang kesakitan aku merasakan panasnya pedih yang dirasanya berpindah langsung ke dalam hatiku. Aku berusaha berjuang melawan diriku agar mataku tidak mempermalukanku.

Kemudian tidak beberapa lama, aku dikejutkan lagi oleh dirinya yang tersenyum melupakan kepedihan dan rasa sakit itu, seraya menunjuk ke perutnya ia berkata, “Aku sangat mencintaimu bayiku, aku rindu untuk melihatmu”. Maha suci Allah yang melimpahkan kesabaran kepadanya untuk menanggung kepedihan yang bersambung dengan ruhnya.

apabila bergerak merasa pedih, apabila duduk merintih, apabila berbaring meringis, apabila berjalan letih, apabila berusaha tidur untuk rehat sejenak tidak sanggup. Dia tidak bisa berbolak-balik ditempat tidurnya seenaknya seperti sebelum ia mengandung bayi itu.

Namun begitu ia masih saja sibuk dengan mengatur, membersihkan, merapikan dan mengurus urusan rumah. Serta mengasuh anak-anaknya yang masih kecil; memberi makan,memandikan dan menidurkan mereka. Itu semua dilakukannya sendiri bagaikan mengangkat sebuah gunung.

Dan setelah itu ia masih berujar kepada kesabaran dengan tersenyum, “hai sabar, ambillah pelajaran dariku. Hai sabar, ambillah pelarajan dariku”.

Cobalah dirimu menjadi seorang ibu. Apakah sanggup seorang laki-laki untuk tinggal bersama seorang bayi usia dua atau tiga tahun sepanjang hari kalau tidak dia akan menyumpah serapah atau memaki dirinya sendiri karena kesal atau menyesal.

Demi Allah, hanya seorang ibu saja yang sanggup menanggung itu dengan ridho, rela dan senyuman.

Alangkah indahnya pemandangan ketika seorang  ibu duduk dan di sekelilingnya duduk pula anak-anaknya yang masih kecil, tak obahnya anak-anak burung yang membuka paruhnya supaya ibunya menyuapkan makanan.

Sang ibu membujuk ini untuk makan, bercanda dengan yang lainnya sambil menyuapkannya, dan memberi minum anaknya yang lain setelah berulangkali merayunya. Serta tertawa dengan yang paling kecil agar mau menyantap makanannya.

Semua itu ia lakukan sambil duduk ditengah-tengah mereka dengan posisi yang tidak mengenakkan, hampir-hampir saja seluruh persendiannya menjerit, mengaduh menahan sakit. Namun begitu ia tetap tersenyum dan memberi semangat anak-anaknya agar mau makan.

Kemudian tiba-tiba ia menjerit pelan, ia barusaja menerima tendangan bayi di dalam perutnya maka ia segera memperbaiki posisi duduknya, setelah itu ia kembali tersenyum seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.
Lantas, janinnya kembali memberikan pukulan dan tendangan lagi seolah-olah ia berkata kepada ibunya, “Aku disini ibu”.

Sang ibu gembira dengan pukulan dan tendangan janinnya, sedangkan janinnya tidak membiarkannya beristirahat barang sejenak.Apabila tidak terasa gerakan janinnya ia takut dan cemas, apabila bergerak ia gembira dan senang.

Subhanallah, beragam rasa sakit dan deritayang saya kira kalau ditimpakan kepada seorang laki-laki berotot barangkali iaakan menjerit sampai terdengar oleh tetangga-tetanggannya.
Adapun dia, tetap sabar mengharapkan ridho Allah, bahkan...tersenyum dan tertawa.

Semoga rahmat Allah untuknya, ramat Allah atasnya dan rahmat Allah bersamanya.

Apabila telah lewat usia kandungan Sembilan bulan, dan telah dekat saat keluarnya janin ke dunia, datanglah musibah itu. Si janin tidak ingin tinggal lagi dirahim ibunya, tapi dia tidak juga keluar dengan suka rela ke dunia fana ini. Ketika itulah rasa sakit yang tidak tertahankan,derita yang tidak ringan

Apakah engkau mengira sakit dan pedih itu berakhir sampai disitu saja?!

Kemudian sering pula janin tidak keluar kecualidengan paksaan, sehingga kadang daging harus disayat, perut dibelah atau di vakum .. kemudian rasa sakit kian bertambah ketika janin mulai keluar ..darah berpacu dengan janin dan kematian serasa di ambang mata, terkadang kematian yang lebih dahulu dan si ibupun mati...sementara janinnya yang hidup.

Apabila sang ibu dikaruniahi usia yang panjang ia sadar setelah menghadapi kondisi yang berat ini, lalu apabila ia melihat bayinya terbaring disisinya, ia pun tersenyum .. hilang rasa sakit, lupa derita yang baru saja dilaluinya.

Ya Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang, alangkah menakjubkannya kasih sayang seorang ibu dan kerinduan kepada bayinya. Ia berjuang menghadapi rasa sakit dan kematian kemudian ia berangan-angan rela mati untuk kehidupan bayinya.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Oleh Ustadz Abu Zubair Al Hawary, Lc.
Untaian bait di atas juga beliau sampaikan ketika beliau mengisi kajian ttg Berbakti Kepada Ibu Di Klaten 24 oktober 2010..

 

Senin, 25 Oktober 2010

SECERCAH HARAPAN DARI CAHAYA LISTRIK DI DESA


SECERCAH HARAPAN DARI CAHAYA LISTRIK DI DESA

Bulan Juli 2008, Alhamdulillah, aku akhirnya bisa menyelesaikan salah satu mata kuliah lapangan yang wajib sebagai salah satu syarat skripsi . Ya, mata kuliah itu bernama “KK “, Kemah Kerja,kemah kerja ini semacam kegiatan memetakan daerah dan membuat peta situasi daerah tersebut, tepatnya di daerah Bayat Klaten. Pada awalnya, jujur siy,aku tidak terlalu optimis dengan Kemah Kerja kali ini karena ada beberapa kendala baik dari aku pribadi, faktor alat, maupun tim. Aku kurang percaya diri siy karena aku kurang begitu mahir dalam memegang alat survey, sehingga perlu belajar lagi dan alat yang diperoleh tim kami saat itu agak “jadul” dibanding tim lain. Di kemah kerja ini, aku belajar bersama teman 1 tim yang inspiratif semua, aku bisa mengambil banyak pelajaran dari mereka.
Tepatnya sekitar akhir bulan Juli, aku dan teman-teman bisa menyelesaikan laporan kemah kerja ini dan membuat petanya.  Setelah kemah kerja ini berakhir, aku sempat diskusi dengan temanku fajar. “Wah, feb, habis kemah kerja gini, paling enak proyek , itu lihat contohnya mas Ebi dan Suryanto, mereka langsung proyek di Jambi”, kata fajar sambil bersemangat. Ya, fajar merupakan teman seangkatanku di teknik geodesi UGM, beliau itu salah satu pengurus di Himpunan mahasiswa Jurusanku sehingga tahu kalo ada kakak angkatan yang ikut proyek. Mas Ebi dan Suryanto, emang  kakak angkatan aku yang lumayan sering ikut survey langsung ke lapangan. Setelah aku pikir, benar juga ya bisa ikutan proyek kan bisa sekalian mengaplikasikan ilmuku juga ya, Insya Allah. Tapi pertanyaannya, kapan ya aq bisa ikut proyek??he..he..itu jadi mimpi bagiku, setelah KK ini. 
Di sela-sela mengerjakan laporan di rumah temanku yang bernama burhan. Tidak sengaja , aku bertemu fajar lagi, tiba-tiba aja dia bilang ke aku “Feb, ada lowongan proyek tuh di papan pengumuman di ruang KMTG (Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi), tapi syaratnya mahasiswa yang akan mengambil skripsi”. Terlintas dalam pikiranku, wah tawaran menarik nih,tapi akung untuk mahasiswa yang mau skripsi padahal aku masih di semester 5 , ambil metopen aja belum. “Proyek apa jar? “, terus fajar nambahi sambil ngeluarin bahasa ngapaknya  “jadi drafter feb, tapi dari teknik Geodesi dibutuhin 2 orang aja, yang penting bisa autocad, kayake proyek tentang perlistrikan desa deh, ya kaya kie proyeke”. Proyek yang menarik siy, menurutku tapi apa bisa ya aku ikut. Sore itu aku balik ke kos, semalaman aku pikirkan, mungkin ini petunjuk dari Allah tentang mimpi aku  ya, Wallahu a’lam.
Paginya, aku bertemu dengan kawan-kawan di kampus pas di lobi, ketika itu aku sedang ngobrol dengan Dani, Aris, dan Fajar. Ternyata mereka sepakat mau mencoba, kan kemarin udah ikut KK, jadi sekalian mengaplikasikan ilmu juga siy meski teknis proyeknya  belum tahu. Sejujurnya, proyek ini untuk angkatan 2005 dan 2004 siy, tapi pas waktu itu periode Juli-Agustus 2008, mereka rata-rata KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan KP(Kerja Praktek). Jadi tinggal anak-anak angkatan 2006 aja di kampus yang agak free. Akhirnya siang hari itu, kami pergi ke tempat lowongan proyek itu yaitu di TE UGM atau Teknik Elektro UGM. Di sana, kami disambut oleh seorang mahasiswa TE UGM, yang ada di call number pengumuman itu. Danang, ya, pertama kali ketemu , dia sangat ramah dan menjelaskan teknis seleksi dan kebutuhan akan proyek itu. Danang ternyata angkatan 2006 juga, sekaligus mantan ketua tim ospek kelompoknya Aris.  Kami bertemu di Lab TD (Transmisi dan Distribusi) TE UGM. “oh, ini mas-mas dari geodesi yang ingin ikut proyek ya??untuk mendukung proyek ini , kami membutuhkan 2 drafter mas yang bisa autocad terutama yang bisa gambar peta situasi yang ada konturnya dan proyek ini butuh survey ke lapangan jadi siap bolos kuliah deh, gmana mas-mas bisa?”kata danang dengan ramah. Ya, spontan saja kami berempat menjawab :” Insya Allah, bisa mas, tapi kami masih semester 5 , padahal di pengumuman tertulis mahasiswa skripsi, gmana mas??kami boleh ikut” aku timpali dengan pertanyaan itu sambil harap-harap, he..he..”Hmmm, boleh mas, g p p kok, wong aku juga lagi semester 5, ini tahun ke-2 aku ikut proyek” sahut danang. Ya, danang termasuk anak yang rajin ikut proyek kayaknya, soale semester -2 udah ikut proyek ini. “Lha mas , karena ini ada 4 orang, dan kita butuhnya 2 orang, gmana kalo kita adakan seleksi ya, ya buat sketsa aja garis kontur dengan kertas HVS ini daerah belakang FT UGM kemudian digambar di autocad, ntar hasilnya dikumpulkan ke aku ya, minggu depan ya”. Setelah itu, kami berempat menyanggupinya, langsung ambil kertas, dan menggambar sketsa kontur. Ya, dari keempat orang , kadang aku merasa gambar aku bakalan kurang deh, tapi ganbatte dan nothing to lose aja, dicoba dulu, Alhamdulillah, sketsa kontur selesai aku buat dan kemudian kami berempat pulang ke kos masing-masing.
2 hari kemudian, ada berita mengejutkan dari Dani. “Maaf, feb, kayake aku g jadi ikut proyek, soale dalam proyek itu bolos kuliah juga siy dan aku ada amanah lain, jadi belum bisa ikut” kata dani begitu. Dani memutuskan mundur, akhirnya tinggal kami bertiga, aku, fajar, dan aris. Pada hari yang ditentukan, akhirnya kami bertemu lagi dengan danang, di lab TD lagi. Ada hal yang istimewa pada saat itu ya, kami juga betemu pimpro (pimpinan proyek) ini bapak Dr. Suharyanto yang juga merupakan PPJ kemahasiswaan TE UGM. Di sana, kami disambut danang dan kami dipersilakan duduk. “ Teman-teman , maaf niy nunggu pak Suharyanto dulu ya untuk hasil seleksinya dan teknis proyek secara khusus kepada kalian” tambah danang. Hampir selama 30 menit kami menunggu di meja tamu Lab TD, karena pak Hari (panggilan akrab pak Suharyanto) sedang rapat di Jurusan. Beberapa saat kemudian , tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu Lab dan ternyata muncul Pimpro kami, ternyata beliau masih muda, Dosen Muda TE UGM. Setelah duduk, Pak Suharyanto memperkenalkan diri dan mengajak kami berkenalan. Kemudian kami bertiga menyerahkan hasil sketsa kontur dan peta kontur hasil autocad. “Cukup bagus mas, hasilnya, tapi kami hanya butuh dua orang, gmana??” kata Pak hari begitu. Akan tetapi, setelah kami bertiga berdiskusi, karena ini proyek pertama dan harus share waktu dengan kuliah dan organisasi, kami memutuskan untuk membuat tim aja . “Maaf, pak, karena pertimbangan waktu dan akademik, gmana kalo kami jadi satu tim aja dengan formasi 4 orang??”, permintaan aku begitu. “Oh g p p mas, tapi ntar fee-nya dibagi berempat lho, he..he., gmana”, tambah pak Hari, sambil agak ketawa. “Oh, g p p, pak, wong kami juga ikut proyek ini untuk nambah pengalaman pak, he..he..” tambah Aris. Akhirnya suasana yang awalnya serius jadi santai dan penuh canda, “Ya, deal mas, tapi tim anda harus ada koordinatornya siapa mas?” kata pak Hari. Fajar langsung menimpali “Febrian aja , pak”. Ya, akhirnya aku terima deh, pengalaman pertama jadi coordinator proyek meski baru planning project. Alhamdulillah, kami bertiga keluar dari lab TD dengan hari gembira karena akhirnya berhasil dapat proyek. Tetapi kami masih berpikir siapa anggota ke-4 dari tim ini, setelah diskusi, akhirnya aku menyebut nama Anung, dan teman-teman setuju juga, spontan aku sms dia, dan Alhamdulillah siy Anung, mau bergabung jadi 1 tim proyek.
Proyek Lisdes ini adalah Program yang sangat positif dari Pemerintah karena awalnya aku berpikir pendanaan ini awalnya dari PLN semua ternyata untuk pengembangan Listrik Desa khususnya di DIY (lokasi proyek aku) ditangani oleh Disperindagkop unit pertambangan dan energy dan Dinas PU provinsi DIY.
Bagiku, proyek ini kenapa aku anggap besar karena melalui proyek lisdes ini, aku bisa  melihat dan merasakan secara langsung bagaimana keadaan masyarakat desa yang belum terlistriki (saat itu aku dan tim survey secara langsung). Suatu saat di suatu desa di daerah Kulon progo, aku melihat beberapa rumah yang benar-benar belum terlistriki ditambah lagi akses jalan ke situ belum ada penerangan, jadi mereka bisa beraktivitas hanya pada pagi-sore hari aja. Saya jadi ingat ungkapan mas salim dalam bukunya dalam dekapan ukhuwah bahwa hendaknya kita peka terhadap apa yang dialami orang lain di sekitar kita, mencoba memahami mereka dan membantu mereka.
Proyek ini berjalan dari Agustus 2008 – Desember 2009. Aku dan teman-teman mendapat banyak pengalaman terutama saat bisa berinteraksi dengan masyarakat desa yang belum terlistriki. Aku  masih ingat ketika di suatu dusun di Gunung kidul, aku melihat ada kabel-kabel dari tiang2 listrik yang terbuat dari kayu. Miris sekali karena , kalo tiang listrik dari kayu mesti berbahaya bisa timbul kebakaran, dan kadang kabel tiang listrik kayu itu dipasang sampai melewati bukit menghubungkan 2 desa, agak parah emang. Warga desa yang kami survey ketika mereka bertemu dengan tim kami, mereka sangat welcome dan berharap sekali desa mereka bisa dilistriki. Aku senantiasa ingat ketika ada seorang nenek tua yang sedang menggendong dagangannya berkata “Mas, mau masang togor (tiang) listrik ya, semoga bisa segera dipasang nggih, soale biar kalo malem bisa terang desa ini dan anak-anak bisa belajar di malam hari karena biasanya anak-anak pakai lampu petromax dan sentir”. Prihatin juga dengan keadaan tersebut, aku jadi ingat ibu aku dulu di tahun 1980 saat SMA, beliau baru bisa menikmati listrik di desa di kabupaten purworejo, sebelumnya ibu dan saudaranya memakai lampu petromax dan sentir kalo pas malam hari. Dan di zaman tahun 2000nan ini, masih juga terdapat desa yang belum terlistriki padahal katanya zaman udah maju, sebuah ironi untuk bangsa ini, meski sekarang udah terdapat solusi dari pemerintah.
Sejak periode Lisdes DIY periode 2008-2009 , hampir 20 desa sudah aku survey bersama tim dari geodesi dan elektro untuk desainnya. Aku jadi mengerti bahwa, pemerintah melalui departemennya dan PLN telah bekerja positif untuk memenuhi target elektrifikasi listrik desa tahun 2010 yang pernah dicanangkan bapak R. Harjoko, saat ekspose proyek tahun 2009. Salah satu yang pernah aku ingat dari teman aku, danang, bahwa proyek lisdes ini merupakan tanggung jawab kita kepada masyarakat. Jika proyek ini berhasil memasang tiang listrik di desa tersebut, masyarakat pun bisa melakukan aktivitas secara optimal baik dari segi pendidikan maupun pekerjaan. Banyak sekali potensi usaha yang bisa dikembangkan masyarakat desa khususnya DIY jika listrik terpasang di desa mereka. Secara otomatis, listrik desa bisa menggerakkan perekonomian desa dan mensejahterakan rakyat. Di samping itu, adik-adik yang masih sekolah bisa belajar di malam hari dan meningkatkan prestasi mereka. Secara otomatis gap kualitas sekolah di desa dan kota akan berkurang secara signifikan jika akses listrik ada. Aku selalu bersyukur pernah ikut proyek ini karena meskipun skalanya tidak terlalu besar, tapi aku bisa merasakan kebahagiaan di sini, karena saya juga mengingat sebuah hadits Nabi Rasulullah SAW  :
“Setiap Kebaikan adalah sedekah” (HR. Bukhari dan Muslim)
Aku berharap semua yang dilakukan tim Lisdes bisa mendapat pahala dari Allah. Semoga Listrik desa bisa terwujud 100% di masa yang akan datang, Insya Allah,amin


Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html
Diselesaikan di karanganyar pukul 14.00 ,25 oktober 2010
Cerpen   ini saya dedikasikan kepada
1.      Masyarakat desa di Indonesia khususnya masyarakat desa yang belum terlistriki di Indonesia dan desa yang pernah saya survey
2.      Bapak Dr. Eng. Suharyanto yang telah memberikan bimbingan selama proyek lisdes, saya berharap suatu saat kelak bapak bisa menjadi anggota DEN (Dewan Energi Nasional) untuk memajukan indonesia
3.      Bapak Heru dan Wisnu, desainer jaringan listrik yang bagus, mksy atas kerjasama dan bimbingannya
4.      Danang( semoga tambah sukses di Exxon ), Alvi, taufiq , Mas Ali, Mas Haryo dari tim Elektro UGM
5.      Aris, Anung, Fajar, dan adik2 penerus lisdes huda, dani, fauzi, dan dono dari Tim Geodesi UGM
6.      PT PLN, Disperindagkop dan DPU DIY

Kamis, 21 Oktober 2010

Belajar dari tukang cat


Pagi itu cerah, tepatnya bulan Mei pertengahan di Karanganyar. Saat itu aku baru saja selesai  mengumpulkan draft skripsiku ke pengajaran sehingga tinggal nunggu sidang pendadaran bulan juli 2010. Mamaku terus bertanya “Dik, skripsinya udah jadi kan?gmana kalo mengecat rumah bagian belakang dik?”, ya, pada saat itu emang, rumah bagian belakang, tepatnya dekat dapur baru diperbaiki tapi belum dicat. Secara spontan, saya menjawab “Insya Allah,Ma, saya bisa, mumpung masih luang”. Ya, jadi tukang cat di rumah sendiri, he..he.. Alhamdulillah, mungkin jadi pengalaman menarik juga. Tapi sebenarnya, aku belajar mengecat rumah itu sejak kelas 2 SMP lho , saat mengisi libur sekolah, bantu bapak.
                Ketika mengecat rumah bagian belakang itu, saya merasakan sekali gmana pekerjaan cat pun butuh keahlian. Bagaimana kita mengecat secara halus, terus mengecat di tempat2 yang sulit seperti atap rumah.  Setiap mengecat, aku pakai ‘”jagrag” atau tangga penyangga untuk membantu saat mengecat di tempat yang agak tinggi. Selama 1 minggu, saya berhasil mengecat bagian belakang rumah dengan hasil “cukup”, he..he…Saya jadi tahu ternyata mengecat rumah itu menyenangkan tapi melelahkan juga siy tapi agak puas. Ada banyak hikmah yang bisa saya petik ketika belajar jadi tukang cat. Profesi ini emang bukan profesi   menghasilkan pendapatan yang besar, tapi tetap harus tetap kita hargai. Seorang tukang cat apalagi kalo mereka mengecat di gedung yang tinggi , jelas mengandung banyak resiko terutama resiko jatuh, tapi para tukang cat tetap professional untuk melaksanakan tugasnya. Salut bagi para tukang cat yang telah mengecat gedung-gedung itu dengan baik meski resikonya besar
                Jadi tukang cat, hendaknya malah bisa membuat kreatif juga lho, pernah suatu saat , tangga yang saya pakai kurang bisa mencapai tembok atap rumah. Kemudian terlintas dalam pikiranku, “ah, gabungin aja sapu dengan kuasnya, he..eh..”. Ya, dari ide itu ternyata, saya akhirnya bisa mencapai tembok tinggi itu, sehingga bisa dicat juga,Alhamdulillah.
                Di samping itu , ketika belajar jadi tukang cat, minimal kata mamaku , aku bisa belajar jadi bapak rumah tangga yang bisa mengelola rumah sendiri ketika punya keluarga kelak. Bisa ngecat sendiri, bisa memperbaiki listrik dan air sendiri ketika rusak. Intinya jadi tahu deh, gmana rasanya mengelola rumah, satu hal lagi yang saya petik.
                Setelah wisuda pun, Mama mempercayakan aku lagi untuk mengecat bagian depan rumah, dan bisa saya selesaikan dengan baik, Alhamdulillah. Hitung2 sebelum merantau bisa memberi yang terbaik bagi rumah. Inti dari tulisanku ini ternyata, apapun profesi orang lain itu harus tetap dihargai teman-teman termasuk tukang cat. Jadi , jangan suka mengotori tembok rumah bahkan tembok fasilitas umum, karena untuk mengecatnya pun, para tukang cat itu sudah berusaha dengan baik, jadi hendaknya kita menghargai mereka.

Diselesaikan pukul 9.18 di Karangayar 22-10-2010

Best regard

FWH

Selasa, 19 Oktober 2010

Man shabara zhafira

Man shabara zhafira, siapa yg bersabar akan beruntung, jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yg akan terjadi didepan, karena yg kita tuju bukan sekarang, tapi ada yg lebih besar dan prinsipil, yaitu menjadi manusia yg telah menemukan misinya dalam hidup. (NEGERI 5 MENARA..., A.FUADI)

A Letter for President ( A hope for Village Electrification(lisdes))


Reflection 20-10-2010
Lisdes atau program Listrik Desa adalah pengalaman saya yang paling berharga selama di UGM.  Inilah proyek pertama saya sebagai mahasiswa, tepatnya setelah KK (Kemah Kerja) 2008. Ini adalah awal mimpi bagi saya, karena tidak mengira di semester 4 bisa ikut proyek, Alhamdulillah. Sejak awal, saya berpikir proyek pertama ini akan menjadi hal yang besar bagi saya, meskipun proyek lisdes yang saya dan tim ikuti ini baru tahapan perencanaan desain jaringan listrik desa. Waktu itu,saya dari tim Geodesi UGM terdiri dari 4 orang, mendukung tim Elektro UGM. Listrik desa merupakan bagian dari program Elektrifikasi pemerintahan RI yang Alhamdulillah, sampai tahun 2010 ini sudah mencapai 65% di Indonesia.
Program yang sangat positif dari Pemerintah karena awalnya saya berpikir pendanaan ini awalnya dari PLN semua ternyata untuk pengembangan Listrik Desa khususnya di DIY (lokasi proyek saya) ditangani oleh Disperindagkop unit pertambangan dan energy dan Dinas PU provinsi DIY. Bagi saya proyek ini kenapa saya anggap besar karena melalui proyek lisdes ini, saya bisa  melihat dan merasakan secara langsung bagaimana keadaan masyarakat desa yang belum terlistriki (saat itu saya dan tim survey secara langsung). Suatu saat di suatu desa di daerah Kulon progo, saya melihat beberapa rumah yang benar-benar belum terlistriki ditambah lagi akses jalan ke situ belum ada penerangan, jadi mereka bisa beraktivitas hanya pada pagi-sore hari aja. 
 sumber : http://boeangsaoet.wordpress.com/page/5/

Saya juga masih ingat ketika di suatu dusun di Gunung kidul, saya melihat ada kabel-kabel dari tiang2 listrik yang terbuat dari kayu (gambarannya mirip dengan gambar di atas yang merupakan gambaran di luar jawa, daerah pakpak barat)..Miris sekali karena , kalo tiang listrik dari kayu mesti berbahaya bisa timbul kebakaran, dan kadang kabel tiang listrik kayu itu dipasang sampai melewati bukit menghubungkan 2 desa, agak parah emang. Warga desa yang kami survey ketika mereka bertemu dengan tim kami, mereka sangat welcome dan berharap sekali desa mereka bisa dilistriki. Saya senantiasa ingat ketika ada seorang nenek tua yang sedang menggendong dagangannya berkata “Mas, mau masang togor (tiang) listrik ya, semoga bisa segera dipasang nggih, soale biar kalo malem bisa terang desa ini dan anak-anak bisa belajar di malam hari karena biasanya anak-anak pakai lampu petromax dan sentir”. Prihatin juga dengan keadaan tersebut, saya jadi ingat ibu saya dulu di tahun 1980 saat SMA, beliau baru bisa menikmati listrik di desa di kabupaten purworejo, sebelumnya ibu dan saudaranya memakai lampu petromax dan sentir kalo pas malam hari. Dan di zaman tahun 2000nan ini, masih juga terdapat desa yang belum terlistriki padahal katanya zaman udah maju, sebuah ironi untuk bangsa ini, meski sekarang udah terdapat solusi dari pemerintah.
Sejak periode Lisdes DIY periode 2008-2009 , hampir 20 desa sudah saya survey bersama tim dari geodesi dan elektro untuk desainnya. Saya jadi mengerti bahwa, pemerintah melalui departemennya dan PLN telah bekerja positif untuk memenuhi target elektrifikasi listrik desa tahun 2010 yang pernah dicanangkan bapak R. Harjoko, saat ekspose proyek tahun 2009. Salah satu yang pernah saya ingat dari teman saya, danang, bahwa proyek lisdes ini merupakan tanggung jawab kita kepada masyarakat. Jika proyek ini berhasil memasang tiang listrik di desa tersebut, masyarkat pun bisa melakukan aktivitas secara optimal baik dari segi pendidikan maupun pekerjaan. Banyak sekali potensi usaha yang bisa dikembangkan masyarakat desa khususnya DIY jika listrik terpasang di desa mereka. Secara otomatis, listrik desa bisa menggerakkan perekonomian desa dan mensejahterakan rakyat. Di samping itu, adik-adik yang masih sekolah bisa belajar di malam hari dan meningkatkan prestasi mereka. Secara otomatis gap kualitas sekolah di desa dan kota akan berkurang secara signifikan jika akses listrik ada.
Pertumbuhan ekonomi meningkat jika elektrifikasi dan konsistensi suplai listrik bisa sejalan. Salut untuk pemerintah yang akan mengadakan proyek 10.000 MW, saya berharap setiap pegawai PLN bisa meniru semangat bapak Dahlan Iskan sehingga kinerja PLN semakin meningkat. Pemerintah dan PLN juga telah mengembangkan listrik dari batubara, geothermal , maupun hal lain untuk mewujudkan proyek 10.000 MW itu dengan baik. Apalagi suatu saat kelak Indonesia bisa mengembangkan PLTN atau listrik dari nuklir, saya berharap DEN (Dewan Energi Nasional) bisa berkonsultasi dengan semua departemen terkait dan masyarakat untuk mewujudkan PLTN karena di Indonesia sudah banyak ahli nuklir khususnya dari teknik nuklir sehingga mereka bisa berkarya dan mengaplikasikan ilmunya untuk kepentingan Indonesia secara langsung. Saya berharap elektrifikasi bisa diprioritaskan untuk kepentingan listrik desa, di samping industry dan kota.
Inilah suatu harapan dari saya untuk pemerintahan bapak presiden sebagai refleksi 1 tahun pemerintahan (20-10-2010). Saya sadar proyek lisdes yang saya ikuti bukan sebesar proyek pertamina, pembangunan jalan tol, atau proyek besar lain, tetapi proyek ini adalah proyek besar bagi saya karena di sini saya mengerjakan semua berdasarkan hati, harapan, dan semangat untuk membantu masyarakat khususnya masyarakat desa yang belum terlistriki. Saya berharap program elektrifikasi pemerintah bisa meningkat terus khususnya listrik desa.

Diselesaikan di karanganyar pukul 22.36 ,19 oktober 2010
Tulisan (notes ke-150 di fb)  ini saya dedikasikan kepada
1.      Masyarakat desa di Indonesia khususnya masyarakat desa yang belum terlistriki di Indonesia dan desa yang pernah saya survey
2.      Bapak Dr. Eng. Suharyanto yang telah memberikan bimbingan selama proyek lisdes, saya berharap suatu saat kelak bapak bisa menjadi anggota DEN (Dewan Energi Nasional) untuk memajukan indonesia
3.      Bapak Heru dan Wisnu, desainer jaringan listrik yang bagus, mksy atas kerjasama dan bimbingannya
4.      Danang( semoga tambah sukses di Exxon ), Alvi, taufiq , Mas Ali, Mas Haryo dari tim Elektro UGM
5.      Aris, Anung, Fajar, dan adik2 penerus lisdes huda, dani, fauzi, dan dono dari Tim Geodesi UGM
6.      PT PLN, Disperindagkop dan DPU DIY