Entri Populer

Kamis, 21 Oktober 2010

Belajar dari tukang cat


Pagi itu cerah, tepatnya bulan Mei pertengahan di Karanganyar. Saat itu aku baru saja selesai  mengumpulkan draft skripsiku ke pengajaran sehingga tinggal nunggu sidang pendadaran bulan juli 2010. Mamaku terus bertanya “Dik, skripsinya udah jadi kan?gmana kalo mengecat rumah bagian belakang dik?”, ya, pada saat itu emang, rumah bagian belakang, tepatnya dekat dapur baru diperbaiki tapi belum dicat. Secara spontan, saya menjawab “Insya Allah,Ma, saya bisa, mumpung masih luang”. Ya, jadi tukang cat di rumah sendiri, he..he.. Alhamdulillah, mungkin jadi pengalaman menarik juga. Tapi sebenarnya, aku belajar mengecat rumah itu sejak kelas 2 SMP lho , saat mengisi libur sekolah, bantu bapak.
                Ketika mengecat rumah bagian belakang itu, saya merasakan sekali gmana pekerjaan cat pun butuh keahlian. Bagaimana kita mengecat secara halus, terus mengecat di tempat2 yang sulit seperti atap rumah.  Setiap mengecat, aku pakai ‘”jagrag” atau tangga penyangga untuk membantu saat mengecat di tempat yang agak tinggi. Selama 1 minggu, saya berhasil mengecat bagian belakang rumah dengan hasil “cukup”, he..he…Saya jadi tahu ternyata mengecat rumah itu menyenangkan tapi melelahkan juga siy tapi agak puas. Ada banyak hikmah yang bisa saya petik ketika belajar jadi tukang cat. Profesi ini emang bukan profesi   menghasilkan pendapatan yang besar, tapi tetap harus tetap kita hargai. Seorang tukang cat apalagi kalo mereka mengecat di gedung yang tinggi , jelas mengandung banyak resiko terutama resiko jatuh, tapi para tukang cat tetap professional untuk melaksanakan tugasnya. Salut bagi para tukang cat yang telah mengecat gedung-gedung itu dengan baik meski resikonya besar
                Jadi tukang cat, hendaknya malah bisa membuat kreatif juga lho, pernah suatu saat , tangga yang saya pakai kurang bisa mencapai tembok atap rumah. Kemudian terlintas dalam pikiranku, “ah, gabungin aja sapu dengan kuasnya, he..eh..”. Ya, dari ide itu ternyata, saya akhirnya bisa mencapai tembok tinggi itu, sehingga bisa dicat juga,Alhamdulillah.
                Di samping itu , ketika belajar jadi tukang cat, minimal kata mamaku , aku bisa belajar jadi bapak rumah tangga yang bisa mengelola rumah sendiri ketika punya keluarga kelak. Bisa ngecat sendiri, bisa memperbaiki listrik dan air sendiri ketika rusak. Intinya jadi tahu deh, gmana rasanya mengelola rumah, satu hal lagi yang saya petik.
                Setelah wisuda pun, Mama mempercayakan aku lagi untuk mengecat bagian depan rumah, dan bisa saya selesaikan dengan baik, Alhamdulillah. Hitung2 sebelum merantau bisa memberi yang terbaik bagi rumah. Inti dari tulisanku ini ternyata, apapun profesi orang lain itu harus tetap dihargai teman-teman termasuk tukang cat. Jadi , jangan suka mengotori tembok rumah bahkan tembok fasilitas umum, karena untuk mengecatnya pun, para tukang cat itu sudah berusaha dengan baik, jadi hendaknya kita menghargai mereka.

Diselesaikan pukul 9.18 di Karangayar 22-10-2010

Best regard

FWH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar